Buton, Surga bagi Pengamat Burung

Pulau Buton sebagai Surga bagi Para Pengamat Burung 

Oleh : Henry Ali Singer

Nama pulau Buton sebelumnya banyak dikenal orang sebagai pulau penghasil aspal. Hal ini disebakan karena di pulau ini  masih meresap sekitar 650 juta ton aspal alam.  Namun tahukah Anda bahwa Pulau Buton juga sebenarnya telah dikagumi dunia sebagai salah satu tempat pengamatan burung  terbaik di dunia. Pada 1995 – sekarang, ratusan turis asing yang sebagian besar dari Inggris selalu menikmati kekayaan burung di Buton melalui program wisata ilmiah, Operation Wallacea Ltd. Beberapa pengamat burung (bird watcher) yang sering keliling dunia bahkan menyebutkan bahwa Buton sebagai tempat pengamatan burung terbaik ke-dua di dunia, setelah Madagaskar. Ironisnya, hingga sekarang penduduk Buton sendiri tidak  mengetahui aset keragaman hayati wilayah yang dimilikinya tersebut.  Oleh karena itu, penulis mencoba mengajak pembaca untuk mengenal burung-burung yang ada di Buton, apa saja keunikannya, dan dimanakah tempat-tempat favorit tempat pengamatan burung tersebut?

   Jumlah Jenis Burung  

Didunia ini telah tercatat sedikitnya sebanyak 8700 jenis burung. Dalam hal kekayaan jenis burung, Indonesia menduduki peringkat ke-empat dunia dengan 1539 jenis burung. Namun demikian, jika dilihat dari tingkat endemisitas negara (burung yang hanya hidup di negara ini), ternyata Indonesia menduduki peringkat pertama di dunia dengan 381 jenis burung (BirdLife International-IP). Keunggulan Indonesia dari tingkat endemisitas burungnya, hal ini berkaitan karena Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan sekitar 17.000 pulau. Jumlah tersebut memberikan kesempatan banyak jenis burung, terutama yang hidup dalam hutan untuk terisolasi dari jenis-jenis lain sehingga mereka hanya hidup secara khusus di pulau-pulau tertentu.

Daerah wallacea termasuk yang paling kaya di Indonesia dengan jumlah burung karena di wilayah ini telah hidup tidak kurang dari 700 jenis, sekitar 250 di antaranya termasuk endemik. Dengan demikian, hampir setengahnya burung-burung Indonesia bisa ditemukan di kawasan Wallacea. Jauh lebih mencengangkan bila kita melihat  tingkat endemisitasnya, sekitar 66 % jenis endemik Indonesia dapat ditemukan di kawasan ini. Hal tersebut merupakan  angka yang sangat mengesankan.

Kawasan Wallacea menjadi sangat terkenal karena terdiri atas ribuan pulau, memiliki keragaman endemik yang tinggi dan kekayaan hayatinya merupakan pencampuran kawasan oriental (termasuk Indonesia barat) dan kawasan Australasia (termasuk Papua dan Australia). Sebelah utara kawasan Wallacea dibatasi Filifina, sebelah barat dibatasi pulau besar Kalimatan, sebelah timur di batasi pulau besar Papua, dan sebelah selatan dibatasi benua Australia. Pulau-pulau di kawasan Wallacea dikelompokan menjadi tiga, yaitu : (1) Sulawesi dan pulau-pulau satelitnya, termasuk Kep. Bangai dan Kep. Sula, selanjutnya disebut sub kawasan Sulawesi (2) Kep. Maluku, dan (3) Kep. Nusa Tenggara.  Kecuali Timor Leste, semua pulau termasuk wilayah Republik Indonesia.

Pulau Buton merupakan salah satu pulau yang terdapat di Wallacea, subkawasan Sulawesi. Buton tergolong unik karena terletak di jantung Wallacea dan memiliki kekayaan jumlah jenis burung yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil survey tim Operation Wallacea (1995 – 2005), telah tercatat tidak kurang 250 jenis burung di Pulau Buton dan sekitarnya (Kabaena dan Wakatobi). Sebagai besar burung tersebut, sebanyak 238 jenis, dapat ditemukan di Pulau Buton. Selebihnya, di Pulau Kabaena ditemukan 144 jenis. Paling sedikit burung-burung ditemukan di kepulauan Wakatobi dengan 93 jenis.  Wakatobi merupakan kepanjangan dari Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko.

Sebanyak 63 (25,2 %) jenis di antaranya termasuk endemik yang terbagi atas 1 jenis endemik Sulawesi Tenggara, 49 jenis endemik sub kawasan Sulawesi, 1 jenis endemik Wallacea, dan 12 jenis endemik Indonesia.  Empat marga di antaranya termasuk endemik sub kawasan Sulawesi.  Disamping itu, terdapat sedikitnya 4 jenis burung yang lepas dari kurungan dan berkembang menjadi liar (feral). Hal lainnya yang menarik yaitu hampir sepertiga burung (74 jenis) yang terdapat di Pulau Buton ini ternyata masuk dalam kategori dilindungi oleh Undang-undang Republik Indonesia. (Lihat table).

 Burung-Burung Endemik sebagai Daya Tarik Utama 

Di dunia ini terdapat jutaan pengamat burung yang tergabung dalam beberapa klub atau organisasi pecinta burung. Di Inggris saja ada sekitar 2 juta orang lebih yang masuk sebagai anggota pecinta burung (RSPB).  Para pengamat burung sering berkeliling dunia untuk “berburu burung” di alam dengan cara mengamati dan mencatat berbagai jenis burung liar di habitat aslinya.  Mereka merasa senang seandainya bisa melihat jenis-jenis burung baru di suatu tempat untuk dicatatkan dalam buku hariannya.

Pulau buton menawarkan hal tersebut bagi para pengamat burung dunia. Di pulau Buton dan sekitarnya terdapat 63 jenis burung endemik. Dengan demikian, pengamat burung akan disuguhi oleh 63 jenis burung baru yang tidak bisa mereka lihat di negara lain. Hal ini tentu sangat menyenangkan bagi mereka, karena bisa mereka menambah daftar jenis burung baru di habitat aslinya.

Sebagian besar burung endemik Pulau Buton dan sekitarnya hidup di dalam atau berbatasan dengan hutan. Di wilayah Buton, Kabaena, dan Wakatobi tidak ada jenis burung laut yang tergolong endemik. Burung laut umumnya memiliki daerah jelajah tinggi, bahkan banyak di antaranya sering bermigrasi jauh sampai ke negara lain. Oleh karena itu, sebagian besar burung laut tidak dimasukkan dalam daftar endemik.  Burung-burung yang hidup di hutan, sebagian besar daerah jelajahnya lebih kecil.  Sebagian besar burung-burung hutan di Pulau Buton tidak menyebrang ke pulau lain seperti Kabaena atau Wakatobi. Karena lebih banyak kemungkinan menemukan burung endemik di Pulau Buton, para pengamat burung akan senang untuk tinggal lebih lama di pulau ini. 

 Daratan pulau Buton masih ditumbuhi oleh hampir setengahnya (45%) hutan alam.   Di daerah hutan ini biasanya pengamat burung dimanjakan oleh burung endemik. Apalagi, hutan Pulau Buton dikenal sebagai hutan yang vegetasinya “miskin” sehingga terlihat tidak terlalu rapat. Seorang pengamat burung bisa melihat burung pada ke dalaman hutan yang agak jauh. Beberapa jenis burung endemik seperti, burung kaca mata Sulawesi, cabai panggul-kelabu (Dicaeum celebicum), bilbong pendeta (Streptocitta albicolis), julang Sulawesi (Aceros cassidix), dsb. bahkan bisa dilihat di desa-desa yang berbatasan dengan hutan.  Ratusan burung jalak tunggir-merah (Scissirostrum dubium), yang marganya tergolong endemik Sulawesi sangat sering dijumpai terbang, mencari makan dan membuat sarang pada pohon bersama ( flocking) sering terlihat dipinggir hutan.  

Studi Biogeography

Pulau Buton, sebagai bagian dari pulau satelit Sulawesi, berdekatan dengan pulau-pulau kecil lainnya. Para pengamat bisa melakukan studi biogeography, dengan cara membandingkan keragaman jenis burung yang terdapat di pulau Buton dengan pulau sekitarnya.  Lebih dalam lagi, jika ingin mengetahui perbandingan ukuran tubuh (morphometric) pengamat dapat menangkap burung dengan menggunakan jala kabut, kemudian mengukurnya dan melepasnya kembali ke alam.  Dari kegiatan tersebut dapat diketahui, beberapa jenis burung jenis yang sama ternyata memiliki perbedaan ukuran tubuh yang agak berbeda.  Selain itu, sering terdengar beberapa perbedaan suara pada beberapa jenis burung yang sama. Seperti halnya dialek bicara pada manusia memiliki variasi berdasarkan perbedaan wilayahnya .             Sangat menarik jika mengamati jenis burung tertentu yang melimpah di suatu pulau, namun burung tersebut tidak dapat diamati di pulau lainnya, padahal letak pulau tersebut tidak terlalu jauh. Julang Sulawesi (Aceros cassidix) yang umum dijumpai di Pulau Buton, namun tidak dapat dijumpai di Kabaena dan Wakatobi. Julang Sulawesi membutuhkan Pohon-pohon ara yang besar untuk hidup dan berkembang biak.  Pohon-pohon ini masih banyak ditemui di Hutan Lambusango dan Suaka Margasatwa Buton Utara. Di Kabaena dan Wakatobi hutannya tidak sebaik seperti di Pulau Buton.  Berdasarkan perbedaan kondisi hutan tersebut, pengamat burung akan berusaha mempelajari fenomena alam terjadi pada persebaran jenis burung.            Studi biogeography akan menjadi catatan tersendiri bagi para pengamat burung. Dalam kegiatan ini mereka akan diajak untuk memperoleh petualangan lebih mengarungi lautan. Misalnya saat studi di kepulauan Wakatobi,  pengamat burung dapat belajar dari masyarakat lokal dalam memperhitungkan kemungkinan ombak besar saat menyebrang dari Pulau Tomia ke Pulau Binongko dan Pulau Ronduma. Bila salah perhitungan akibatnya bisa fatal, kapal laut yang sudah disewa bisa tergulung ombak besar. 

Burung-burung Terancam Punah

Hasil pengamatan Tim Survey Operation Wallacea, berdasarkan kategori IUCN terdapat 5 jenis burung terancam punah (threatened) dan 13 jenis burung hampir terancam punah (near-threatened). Dari seluruh jenis tersebut, salah satu yang menarik perhatian pengamat burung adalah maleo senkawor (Macrocephalon maleo).  Burung ini hidup di SM Buton Utara dan memiliki beberapa keunikan.  Saat berkembang biak, maleo menyimpan telurnya pada pasir yang sudah digali. Maleo termasuk jenis burung precocial dimana  saat embrio (dalam telur) mengalami pertumbuhan pesat.  Saat menetas anak langsung keluar mencari makan dan berjalan sendiri tanpa dipelihara induknya. Pengamat burung sering bersabar, menunggu hingga berjam-jam mengintip kejadian burung saat itu.  Hal tersebut telah menjadi pengalaman yang menakjubkan bagi mereka, terutama karena perilaku maleo dan bentuk tubuhnya sangat unik.  Perilakunya sering menggali tanah di saat musim berbiak, bagian kepalanya menjendul dibelakang, dan kakinya yang besar (megapode). Selain itu, marga maleo termasuk endemik Sulawesi, statusnya terancam punah, dan dilindungi undang-undang Republik Indonesia.

Hutan Lambusango 

Hutan lambusango telah dijadikan tempat ideal bagi para pengamat burung jika ingin melakukan studi lebih terukur khususnya tentang studi populasi.  Di Hutan Lambusango telah tersedia 6 buah blok transek sepanjang 4 x 3 Km. Di masing-masing transek para pengamat burung biasanya melakukan studi populasi burung dengan menggunakan titik hitung (point count). Di dalam hutan, sangat sulit untuk melihat burung-burung karena tertutup oleh kanopi pohon yang rapat. Dalam konsisi ini, biasanya para pengamat burung lebih mengutamankan identifikasi burung dengan menggunakan suara.            Berdasarkan hasil pengamatan, beberapa jenis burung endemik yang umum dijumpai di Hutan Lambusango relatif banyak, diantaranya : pelanduk Sulawesi (Trichastoma celebense), bubut Sulawesi (Centropus celebensis), pelatuk-kelabu Sulawesi (Mulleripicus fulvus), dsb. Burung-burung tersebut semuanya termasuk burung yang sering bersuara. Berawal dengan membedakan jenis burung tersebut melalui suara, para pengamat pemula bisa melakukan latihan membedakan jenis-jenis burung di Pulau Buton dan sekitarnya melalui suara.

 Penemuan Baru

Kawasan wallacea menurut beberapa ahli merupakan kawasan yang masih sedikit diteliti oleh para ilmuwan.  Sampai saat ini masih terbuka bagi para ilmuwan untuk menemukan jenis-jenis atau sub jenis baru.  Para pengamat burung akan memperoleh kesempatan berharga, bersama para ilmuwan menemukan beberapa jenis atau sub jenis baru di kawasan ini. Pengalam untuk menemukan hal-hal baru ini tentu akan menjadi sesuatu hal yang istimewa.

            Dalam kurun waktu sepuluh tahun (1995 – 2005), telah ditemukan 1 sub jenis burung baru, anis punggung-merah/ Kabaena Trush (Zoothera erythronota kabaena subsp.nov.). Penemuan ini telah dipublikasikan oleh Dean dkk. (2002) dalam jurnal Forktail 18. Satu lagi penemuan baru adalah ditemukannya kemungkinan sub jenis atau jenis baru burung kacamata di Wangi-wangi. Burung ini memiliki perbedaan signifikan dengan burung kacamata laut atau kacamata Sulawesi yang tercatat dalam buku panduan lapangan Coates dan Bishop (1997). Dalam buku tersebut dideskripsikan bahwa Kacamata laut dan Kacamata Sulawesi yang terdapat di Sulawesi Tenggara paruhnya berwarna hitam. Kacamata yang baru ditemukan di Wangi-wangi ini memiliki paruh berwarna kuning, ukuran paruh dan kepalanya agak besar. Namun demikian, untuk memastikan apakah burung tersebut termasuk jenis atau sub jenis baru perlu studi mendalam. Perlu dilakukan analisis DNA dan menangkap beberapa sampel burung untuk disimpan di museum.

Lokasi Pengamatan Burung 

Seluruh tempat di Pulau Buton, Kabaena, dan Wakatobi yang berbatasan dengan hutan, hutan bakau, dan pantai merupakan lokasi potensial yang baik untuk mengamati burung. Lokasi lain seperti kebun dan gua sarang burung walet kadang diminati oleh para pengamat burung karena keunikan dan jenis tertentu yang hidup disana.  Namun demikian, selama ini terdapat beberapa lokasi yang paling sering dikunjungi turis. Selain transek di Hutan Lambusango dan tempat bersarang maleo di SM Buton Utara. Lokasi lain di Pulau Buton yang sering dikunjungi para pengamat burung adalah Danau Togomotonu dan Loncibu di Lasalimu Selatan, Labundo-bundo, Hutan Kakenauwe, Sawah Lawele, Pasarwajo K 10 dan Hill House Bau-Bau. Hutan Wisata Tirta Rimba, sebelum tahun 1999 telah diminati oleh para pengamat burung karena lokasi hutan ini berdekatan dengan Bau-Bau. Saat ini hutan tersebut sudah tidak diminati lagi, mengingat kondisinya yang sudah rusak parah. Beberapa burung menarik, seperti kakatua jambul-kuning (Cacatua sulphurea) sudah menghilang dari sana. Danau Togomotonu dan Loncibu merupakan salah satu lokasi paling menarik tempat pengamatan burung. Selain danau, di lokasi ini pengamat burung dapat dengan mudah melihat jenis burung pada tipe habitat yang berbeda-beda seperti hutan, sawah, dan kebun. Dengan berbekal tenda, alat masak dan teleskop, pengamat akan sangat dimanjakan mengamati burung-burung air  yang terdapat di danau tersebut. Pagi-pagi betul sambil menunggu makan pagi mereka bisa berdiri dipinggir danau sambil mengamati burung. Setelah makan pagi, mereka bisa berkeliling sedikit  selama 1 – 2 jam, biasanya tidak kurang 50 jenis burung dapat merekacatat.   Saat ini Danau Togomotonu masih terpelihara relatif baik, penduduk juga seringkali menggunakan danau untuk ritual agama tertentu. Selain itu, Danau Togomotonu menyimpan suatu legenda tersendiri. Konon menurut cerita penduduk setempat, zaman dahulu kala ada sebuah kerajaan di daerah Lasalimu.  Ada seorang pangeran putra kerajaan yang memaksa ingin mengawini saudara perempuannya. Tuhan murka, bencana alam, hujan besar dan gempa terjadi dan membenamkan kerajaan itu dalam tanah hingga sekarang ini terbentuklah danau yang disebut Danau Togomotonu.

 Sampai Kapan Surga itu Masih Bisa Dinikmati ?

Jenis-jenis burung yang hidup di Pulau Buton ebih banyak dibandingkan jenis burung di Kabaena dan Wakatobi. Disamping daratan Buton yang lebih luas, hal ini tentu disebabkan karena hutan yang tersisa di Pulau Buton ini masih cukup besar. Seyogyanya dengan Wakatobi, daerah ini paling sedikit memiliki keragaman jenis burungnya, karena  hutan yang tersisa pun paling sempit. Selain itu, berdasarkan perspektif bahwa pengamat burung datang ke Pulau Buton target utamanya adalah melihat burung-burung endemik.  Burung-burung endemik tersebut sebagian besar hidup di hutan alam Pulau Buton. Dengan demikian, penyelamatan hutan di Pulau Buton merupakan harga mati yang tidak bisa ditawar.  Bila hutan di  pulau Buton rusak, berarti banyak jenis burung endemik di dalamnya akan lenyap.  Di Pulau Buton, Hutan Lambusango merupakan hutan terbesar ke dua setelah SM Buton Utara, saat ini tengah mengalami berbagai ancaman. Kekayaan aspal buton, dalam Whitten dkk. (2005) sebenarnya terlihat membelah Hutan Lambusango. Deforestasi di sekitar hutan ini terus berusaha merangsek masuk ke dalam hutan sehingga mengancam habitat burung-burung yang hidup di hutan. Jika hal ini terjadi, kemana burung-burung tersebut bisa pindah ? Sampai kapan burung-burung tersebut bisa bertahan? Burung-burung yang terdapat di Hutan Lambusango sebagian besar tidak bisa pindah ke hutan lain. Alasannya di hutan lain juga telah dihuni oleh burung-burung asli setempat. Selain itu, berbeda dengan jenis burung laut yang memiliki daerah jelajah cukup luas, burung-burung dalam hutan, umumnya memiliki daerah jelajah yang sempit. Burung memiliki fungsi keindahan dan fungsi ekologis penting dalam kehidupan. Sungguh tidak dapat dibayangkan, bila burung-burung yang senantiasa berkicau merdu dan berbulu indah di Pulau Buton lenyap. Keseimbangan alam bisa terganggu karena satwa ini memiliki peranan ekologis yang penting diantaranya sebagai penyebar biji dan memakan banyak organisme yang tidak menguntungkan bagi manusia. Buton sebagai surga bagi para pengamat burung hanya akan tinggal cerita bagi anak cucu. Lebih buruk lagi, ada kemungkinan Pulau Buton yang tadinya nyaman dijadikan sebagai tempat tinggal, lambat laun akan mengalami ancaman kekeringan, bencana alam, dan wabah penyakit. Mudah-mudahan hal ini tidak akan terjadi.       

Categories: Biodiversity | 8 Comments

Post navigation

8 thoughts on “Buton, Surga bagi Pengamat Burung

  1. Artikelnya menarik.

  2. Waw deskriptif sekali ya, Kang.
    Salam dari Bandung -Felicia-

  3. Seberapa banyak populasi burung walet di Buton? adakah peternak walet disana?

    • singerali

      Sulit untuk menentukan populasi burung ini bang, apalagi kebiasaan walet yang terbang terus, tidak pernah bertengger. Sepengetahuan saya di Buton tidak ada peternak walet. Hanya ada bbp penduduk yang sering kali mencari sarang burung walet di gua-gua yang ada di Buton.

  4. yanuar

    wah kang menarik sekali artikelnya, kalau boleh saya ingin bertanya-tanya tentang pengalaman akang selama meneliti di daerah sulawesi tersebut..nah saya boleh minta no HP atau email yang bisa dihubungi kang?
    ditunggu balasannya secepatnya.
    yanuar
    yanuar.idc39@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: